By: Dani dari LandingUp.id
Beberapa waktu terakhir, kita sering mendengar kalimat yang sama diulang-ulang:
“Daya beli turun.”
“Orang makin susah belanja.”
“Ekonomi lagi lesu.”
Kalimat ini terdengar di mana-mana. Di grup WhatsApp, obrolan warung kopi, sampai diskusi serius para pelaku usaha. Banyak penjual mengeluh, toko offline sepi, closing makin berat.
Tapi…
apakah benar orang Indonesia berhenti belanja?
Di sini cerita menariknya dimulai.
Ketika Data Google Berbicara, Bukan Sekadar Opini
Dalam sebuah diskusi yang hangat dan santai, Google Indonesia membongkar satu fakta penting yang sering luput dari perhatian ekonom konvensional:
👉 perilaku belanja masyarakat Indonesia sudah bergeser total.
Bukan hilang.
Bukan berhenti.
Tapi berubah bentuk dan jalurnya.
Lewat laporan Southeast Asia Economy Report yang sudah berjalan 10 tahun, Google bersama Bain & Company serta Temasek mengungkap bahwa:
📊 Perekonomian digital Indonesia tahun 2025 diperkirakan mencapai 100 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan sekitar 14% per tahun.
Angka ini bukan asumsi.
Ini data real-time dari perilaku pengguna internet Indonesia.
Masalahnya Bukan Sekadar Daya Beli, Tapi Keinginan Membeli
Di sinilah sudut pandangnya berubah.
Dalam dunia bisnis dan marketing, ada dua istilah penting:
- Daya beli (purchasing power)
- Keinginan membeli (willingness to spend)
Dan sering kali, keinginan membeli bisa lebih kuat daripada daya beli.
Contohnya sederhana:
- Penjualan makanan kucing naik 15% (padahal ini produk non-primer)
- Fenomena “selebrity pets” dengan jutaan followers
- Orang rela beli skin game, item virtual, hingga merchandise digital
Secara logika ekonomi lama, ini “aneh”.
Tapi secara perilaku manusia, ini masuk akal.
Karena emosi, hiburan, identitas, dan rasa terhubung kini menjadi faktor utama keputusan belanja.
E-Commerce Masih Raja, Tapi Ada Pemain Baru yang Lebih Kencang
Dari seluruh perekonomian digital Indonesia:
- E-commerce menyumbang sekitar 70 miliar dolar
- Pertumbuhan: 14%
- Tapi pendorong terbesarnya bukan marketplace biasa…
🎥 Video Commerce
Indonesia mencatat:
- 2,6 miliar transaksi video commerce
- Pertumbuhan 90% year-on-year
- Tercepat di Asia Tenggara
Artinya?
Orang Indonesia tidak lagi sekadar cari produk, tapi:
- Menonton
- Terhibur
- Percaya pada kreator
- Baru membeli
Belanja bukan lagi aktivitas rasional semata, tapi pengalaman.
YouTube, Kreator, dan Ekosistem Kepercayaan
Salah satu insight menarik datang dari YouTube Shopping:
- Konten belanja naik 400% hanya dalam 1 tahun
- 40 juta orang Indonesia datang ke YouTube untuk mencari referensi belanja
Kenapa ini penting?
Karena orang lebih percaya:
“Rekomendasi kreator yang mereka ikuti”
daripada
“Iklan produk yang teriak-teriak diskon”.
Di sinilah ekosistem bekerja:
- Kreator → membangun trust
- Platform → menyediakan teknologi
- Brand → masuk secara natural
- Konsumen → merasa nyaman
Bukan jualan dengan cara hard selling.
Tapi jualan yang terasa manusiawi.
Cashless Bukan Tren, Tapi Kebiasaan Baru
Data lain yang cukup mencengangkan:
- 60% transaksi di Indonesia sudah cashless
- Tinggal 40% yang tunai
- Pertumbuhan digital payment: 27% per tahun
Bayar apa pun sekarang:
- Tinggal tap
- Tinggal klik
- Tinggal scan
Semakin mudah prosesnya, semakin kecil hambatan psikologis untuk belanja.
AI: Dari “Mainan Masa Depan” Jadi Alat Sehari-hari
Dulu AI terasa jauh.
Sekarang AI sudah ada di saku kita.
Indonesia termasuk negara:
- Paling terbuka
- Paling optimis
- Paling cepat mengadopsi AI
Fakta menarik:
- Penggunaan Gemini termasuk tertinggi di dunia
- Pendapatan aplikasi dengan fitur AI naik 127%
- Orang Indonesia rela membayar untuk fitur AI yang membantu hidup mereka
AI bukan lagi soal “canggih”, tapi soal:
- Lebih cepat
- Lebih praktis
- Lebih relevan
Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Relevansi
Salah satu kalimat paling “nendang” dari diskusi ini adalah:
“Saat kita tidur, orang lain sedang belajar.
Dan ketika kita bangun, kita bisa saja sudah tidak relevan.”
Teknologi tidak menunggu.
AI tidak menunggu.
Perilaku pasar tidak menunggu.
Yang bertahan bukan yang paling pintar,
tapi yang paling cepat beradaptasi.
Jadi, Apa Artinya untuk Kita?
Baik kamu:
- Pelaku UMKM
- Marketer
- Kreator
- Profesional
- Atau anak muda yang sedang cari peluang
Pesannya jelas:
- Jangan hanya lihat dunia offline
- Jangan hanya percaya survei lama
- Lihat data perilaku digital
- Pahami keinginan membeli, bukan cuma daya beli
- Masuk ke ekosistem, bukan berdiri sendirian
Penutup: Jangan Salah Baca Zaman
Ekonomi Indonesia tidak mati.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari:
- Toko fisik → layar
- Etalase → video
- Iklan → cerita
- Produk → pengalaman
Dan bagi siapa pun yang mau belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi dengan bijak,
peluangnya justru sedang terbuka lebar.
Pelan-pelan, konsisten, dan relevan.
Itu kuncinya.
Banyak bisnis besar hari ini tidak lahir hanya dari iklan besar-besaran.
Mereka tumbuh dari:
- artikel edukasi
- halaman yang konsisten ranking
- traffic organik yang stabil
- trust yang dibangun bertahun-tahun
Optimasi Google lewat website bukan solusi instan,
tapi justru solusi paling tahan lama di tengah perubahan algoritma, tren, dan platform.
Banyak yang nunda, akhirnya nggak mulai-mulai.
Mulai bikin web sekarang atau nunggu nanti?
Chat WA sekarang.
