Bata : Brand Asing yang Terasa Kayak Punya Kita?

Bismillah yaa…

Coba jujur.
Dulu kamu juga mikir gini kan:
“Bata itu brand lokal.”

Tenang, kamu nggak sendirian.
Hampir semua orang Indonesia mikirnya begitu.

Soalnya Bata itu…
udah keburu nempel sama hidup kita.

Sepatu sekolah? Bata.
Sepatu kerja? Bata.
Kadang sandal pun Bata.

Apalagi dulu pabrik besarnya ada di Kalibata.
Otak kita langsung nyambung sendiri:

Bata = Kalibata = produk lokal

Masuk akal sih.
Tapi ternyata… salah.

Plot twist dikit.

Bata itu bukan brand Indonesia.
Dan namanya juga bukan singkatan dari Kalibata.

Bata itu nama orang.
Pendiri aslinya namanya Tomáš Baťa.
Orangnya bukan dari Jakarta, tapi dari Republik Ceko.
Jauh banget.

Terus muncul pertanyaan seru:
👉 Kok bisa ya, brand sejauh itu terasa kayak lahir di sini?

Jawabannya Bukan Marketing Canggih

Bukan karena iklannya keren.
Bukan juga karena logonya nempel di mana-mana.

Jawabannya satu:
Bata ngerti banget kita butuh apa.

Waktu masuk ke Indonesia dulu, Bata nggak sok Eropa.
Nggak maksa jual sepatu kulit tebal buat musim dingin.

Mereka mikir simpel:

“Orang sini hidupnya kayak gimana sih?”

Hasilnya:

  • Sandal yang kuat untuk cuaca panas dan jalanan berdebu

  • Sepatu sekolah hitam yang tahan banting, dipakai lari dan main bola

  • Harga yang masuk akal untuk kantong rakyat

Nggak gaya-gayaan.
Yang penting kepakai.

Dan dari situ, pelan-pelan, orang lupa kalau Bata itu brand asing.
Yang diingat cuma satu:

“Ini sepatu enak, awet, dan cocok.”

Sekarang Coba Ngaca ke Bisnis Kita

Jujur aja ya.

Banyak bisnis sekarang tuh…
terasa kayak orang asing di chat pelanggan sendiri.

Isinya apa?

Jualan.
Promo.
Diskon.

Bahasanya kaku.
Nggak nyambung sama kondisi orang yang nerima.

Akhirnya apa?

  • Di-read doang
  • Di-skip
  • Atau langsung di-archive

Padahal masalahnya bukan produknya jelek.
Masalahnya: nggak relevan.

Relevansi Itu Lebih Penting dari Terkenal

Saat masuk ke Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda) di era 1930-an,
Bata tidak datang sambil pamer identitas Eropa.

Mereka tidak memaksa pasar tropis membeli sepatu mahal ala musim dingin.

Coba bayangin.
Kalau Bata dulu maksa jualan sepatu salju di Jakarta.
Mau sekuat apa pun brand-nya, ya tamat.

Filosofi Tomáš Baťa jelas:

“Shoemaker to the World.”
Bukan shoemaker untuk Eropa saja.

Mereka mulai dari pertanyaan paling dasar:
Orang Indonesia sebenarnya butuh sepatu seperti apa?

Bata tidak menjual gaya.
Mereka menjual solusi hidup sehari-hari.

Di jualan online pun sama:

  • Jangan nawarin perlengkapan bayi ke mahasiswa
  • Jangan jual jilbab ke cowok
  • Jangan kirim promo “pelanggan baru” ke orang yang udah langganan

Begitu pesannya pas, reaksi pelanggan biasanya cuma satu:

“Lah, kok pas banget?”

Dan karena itulah, pelan-pelan, identitas “brand asing” mereka menghilang.
Yang tersisa cuma satu kesan:

“Ini sepatu yang ngerti kita.”

Orang Nggak Peduli Brand Kamu Dari Mana

Serius.
Pelanggan jarang mikirin:
“Ini brand lokal atau luar?”

Yang mereka rasain cuma:
“Ini bantu saya nggak sih?”

Makanya, kalau mau pesan kita nyampe,
kita butuh data pelanggan yang rapi.

Biar nggak asal broadcast.
Biar chat kita nggak terasa kayak spam.

Tapi kayak temen yang ngerti kondisi dan kebutuhan kita.

Seperti Bata di kaki orang Indonesia.

Intinya Gini

Berhenti mengirim promosi yang membosankan dan terasa asing.
Mulai kirim pesan yang tepat, ke orang yang tepat, di waktu yang tepat.

Karena di era sekarang,
relevansi adalah mata uang paling mahal dalam bisnis.

Dan Bata sudah membuktikannya jauh sebelum digital marketing lahir.

Kalau masih bingung membagi pelanggan biar chat-nya nyambung, kita ngobrol santai aja di WhatsApp.

420096885 277459331727648 6533635286062607832 n 1